Sabtu, 31 Agustus 2013

INJIL BARNABAS





INJIL BARNABAS: Analisis dari Perspektif Kristen
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
Wilson, M.Th
(Dosen STAKN Palangkaraya Bidang Studi: Ilmu Agama-Agama)

Sejak Injil Barnabas diperkenalkan kepada publik telah memunculkan banyak kontroversi, secara khusus di kalangan umat Kristen.  Karena itu, tulisan ini akan mencoba memberikan wawasan singkat tentang pandangan Kristen terhadap keabsahan Injil yang kontroversi ini.   Injil Barnabas adalah sebuah karya yang menggambarkan kehidupan Yesus, menurut perspektif Barnabas. Namun Injil Barnabas diduga kuat berasal dari ajaran gnostik yang merupakan ajaran sesat dan tidak diakui dalam sejarah kekristenan.  Lagi pula Barnabas tidak pernah menulis kitab manapun.  Didapati bahwa dua naskah tertua Injil Barnabas  diketahui ditulis  pada  akhir abad ke-16, masing-masing ditulis dalam bahasa Italia dan dalam bahasa Spanyol.  Bahkan versi bahasa Spanyol yang ada hingga sekarang hasil salinan pada abad ke-18. Kitab ini panjangnya lebih kurang sama dengan keempat Injil (Perjanjian Baru) bersama-sama (naskah bahasa Italia yang mengandung 222 pasal) yang sebagian besar memuat kisah tentang pelayanan Yesus, secara umum sangat tidak selaras dengan laporan-laporan yang juga ditemukan dalam Injil-injil kanonik.  Dalam hal dan batas tertentu, Injil Barnabas  mengikuti penafsiran kelompok tertentu tentang asal-usul Kristen, sehingga pengarang dan sejarah tekstualnya tetap menjadi kontroversi yang berlanjut.
Injil Barnabas dianggap oleh para akademisi secara umum (termasuk para sarjana Kristen dan sebagian Muslim) merupakan tulisan palsu dan menyesatkan.  Namun, ada beberapa kalangan akademisi mengatakan bahwa Injil ini kemungkinan mengandung sejumlah sisa dari karya apokrif yang lebih awal yang disunting untuk disesuaikan dengan pandangan Islam, barangkali Gnostik (Cirillo, Ragg) atau Ebionit (Pines) atau Diatessaron (Joosten). Injil Barnabas yang asli di tulis di dalam bahasa Yunani, bukan dari bahasa Italia ataupun Spanyol.  Dan, tahun pembuatannya sangat berjauhan. Dari segi isinya, Injil Barnabas sangat jauh melenceng dari ke empat injil lainnya, yaitu Matius, Lukas, Markus, dan Yohanes.  Akhir-akhir ini, justru Injil Barnabas lebih dikenal di dunia di luar Kristen ketimbang diketahui oleh Jemaat Kristen. 
A.      Sejarah Tekstual Injil Barnabas
Injil Barnabas pertama kalinya ditemukan dalam salah satu dari dua manuskrip yang dikenal dan dilaporkan dalam naskah Morisco BNM MS 9653 di Madrid.  Naskahnya  ditulis sekitar 1634 oleh Ibrahim al-Taybili di Tunisia.
Sebuah "Injil menurut Barnabas" disebutkan dua kali dalam daftar karya-karya apokrif Kristen perdana: Decretum Gelasianum (tidak lebih tua dari abad ke-6), serta tulisan dari abad ke-7 List of the Sixty Books (Daftar ke-60 Kitab). Daftar-daftar ini adalah saksi-saksi independen, tetapi dalam kedua kasus di atas tidak dapat memastikan apakah si penyusun benar-benar telah melihat kesemua karya yang didaftarkan itu. Lebih jauh, daftar-daftar ini tidak memberikan rincian tentang isi karya-karya itu, dan tidak ada alasan untuk mengasumsikan bahwa teks Injil Barnabas dari abad ke-6 dan ke-7 ini adalah teks yang sama dengan yang kita bicarakan sekarang. M. R. James, New Testament Apocrypha (1924) menyangkal bahwa karya-karya yang disebutkan dalam daftar itu memang benar-benar pernah ada.
Karya ini tidak boleh dicampurkan dengan Surat  Barnabas yang selamat, yang diduga telah ditulis pada abad ke-2 di Alexandria. Antara kedua tulisan ini tidak ada hubungan dalam gaya tulisan, isi atau sejarahnya, selain bahwa kedua-duanya menganggap dirinya ditulis oleh Barnabas.  Keduanya pun tidak boleh dibingungkan dengan Kisah perbuatan Barnabas yang telah ditemukan, yang menyampaikan laporan tentang perjalanan, kematian Barnabas sebagai seorang martir dan penguburannya; dan yang pada umumnya diduga telah ditulis di Siprus sekitar setelah 431.
Pada 478, pada masa pemerintahan Kaisar Zeno, uskup agung Anthemios dari Siprus mengumumkan bahwa sebuah tempat penguburan tersembunyi dari Barnabas telah dinyatakan kepadanya dalam sebuah mimpi. Tubuh orang suci itu konon telah ditemukan di sebuah gua dengan sebuah salinan dari Injil Matius yang kanonik di dadanya. Hal ini disampaikan oleh Theodorus Lector yang sezaman, yang kemungkinan sekali hadir ketika tulang-tulang dan kitab Injil itu dipersembahkan oleh Anthemios kepada kaisar. Sejumlah peneliti yang menegaskan bahwa Injil Barnabas itu memang sebuah naskah kuno dengan mengajukan pendapat bahwa teks yang konon ditemukan pada 478 harus diidentifikasikan sebagai Injil Barnabas, tetapi tidak ada saksi sezaman yang mendukung pandangan ini. Menurut sebuah tradisi abad pertengahan yang dilestarikan di biara Sumela di selatan Trabzon, relikui-relikui Barnabas kemudian dipersembahkan kepada biara itu oleh Yustinianus; tetapi kemudian hilang satu abad kemudian ketika tentara-tentara Persia menduduki Alpen Pontus dalam peperangan mereka melawan Heraclius. Pada 1986, sempat diklaim bahwa sebuah salinan awal Injil ini dalam bahasa Suriah telah ditemukan dekat Hakkari , "The Original Bible Barnabas Found in Turkey", dalam The Minaret  (1985)  Namun demikian, tak lama kemudian dilaporkan bahwa naskah ini sesungguhnya hanya mengandung Alkitab yang kanonik saja.

B.       Manuskrip Injil Barnabas.
Manuskrip Dalam Bahasa Italia.  Naskah Injil Barnabas dalam bahasa Italia milik Pangeran Eugene dipersembahkan kepadanya pada 1709 oleh John Frederick Cramer. Naskah ini tampaknya berasal dari abad ke-16.  Pada 1738 naskah ini dengan seluruh isi perpustakaannya sang Pangeran dipindahkan ke Hoffbibliothek Wina, dan masih bertahan di sana di Perpustakaan Nasional Austria. Halaman-halaman dari manuskrip bahasa Italia ini dibingkai dalam gaya tertentu, dan memuat pembagian pasal dan catatan-catatan pinggir dalam bahasa Arab yang tidak teratur tata bahasanya, dan dengan bahasa Arab yang keliru (sesekali dengan kata bahasa Turki, dan banyak ciri sintaksis Turki), catatan pinggir ini margin merupakan penafsiran yang kasar dalam bahasa Arab terhadap ayat-ayat tertentu. Sampulnya dalam bahasa Turki, dan kelihatannya asli. Tetapi kertasnya tampaknya Italia, seperti halnya juga dengan tulisan tangannya (meskipun dengan ejaan yang banyak tidak lazim. Ada slogan-slogan di dasar setiap halaman, sebuah praktik yang umum dalam naskah-naskah yang dipersiapkan untuk dicetak. Naskah ini tampaknya tidak selesai sampai pada ke-222 pasalnya, karena diberikan ruang-ruang kosong untuk judul-judul pasal, tetapi hanya 27 ruangan yang telah diisi. Selain itu, ada 38 halaman berbingkai yang sama sekali kosong sebelum teksnya. Diduga bahwa ke dalam halaman-halaman itu akan disalin tulisan-tulisan lain. Naskah versi bahasa Italia inilah yang dijadikan dasar untuk terjemahan Raggs 1907, yaitu terjemahan yang paling umum beredar dalam bahasa Inggris. Terjemahan ini diikuti pada 1908 oleh terjemahan bahasa Arab oleh Khalil Saadah, yang diterbitkan di Kairo, Mesir.  Sehingga manuskrip Injil Barnabas ini dapat dijumpai dalam tiga versi, yaitu:
  • Teks lengkap dalam bahasa Italia ditranskripsikan dengan terjemahan bahasa Inggris dan pengantarnya: Ragg, L dan L - The Gospel of Barnabas. (Clarendon Press, Oxford, England, 1907).
  • Edisi bahasa Italia kedua – dalam kolom-kolom paralel dengan sebuah teks yang dipermodern: Eugenio Giustolisi dan Giuseppe Rizzardi, Il vangelo di Barnaba. Un vangelo per i musulmani? (Milano: Istituto Propaganda Libraria, 1991).
  • Teks lengkap dari naskah bahasa Italia telah diterbitkan dalam bentuk faksimili; dengan terjemahan bahasa Perancis dan komentar yang panjang serta aparatus tekstual: Cirillo L. & Fremaux M. Evangile de Barnabe: recherches sur la composition et l'origine, Paris, 1977.
Manuskrip Dalam Bahasa Spanyol. Naskah Spanyol yang diketahui lenyap pada abad ke-18 atau ke-19, tetapi sebuah salinan abad ke-18 ditemukan pada tahun 1970-an di Fisher Library Universitas Sydney di antara buku-buku milik Sir Charles Nicholson, yang diberi label dalam bahasa Inggris "Transcribed from ms. in possession of the Revd Mr Edm. Callamy who bought it at the decease of Mr George Sale...and now gave me at the decease of Mr John Nickolls, 1745" (Disalin dari manuskrip kepunyaan Pdt. Edm. Callamy yang membelinya ketika Tn. George Sale meninggal dunia … dan kini memberikannya kepada saya ketika Tn. John Nickolls meninggal dunia”
Perbedaan utama dari naskah Italia ialah bahwa salinan yang selamat tidak mencatat sejumlah besar pasal—yang masih ada dalam naskah asli dalam bahasa Spanyol ketika naskah itu diperiksa oleh George Sale. Teks Spanyolnya didahului oleh sebuah catatan yang mengklaim bahwa naskah itu diterjemahkan dari Bahasa Italia oleh Mustafa de Aranda, seorang penduduk Muslim Aragon di Istanbul. Manuskrip Spanyol ini juga memuat sebuah pendahuluan dari seseorang yang menggunakan nama samaran 'Fra Marino', yang mengklaim bahwa ia telah mencuri salinan versi Italia itu dari perpustakaan Paus Siktus V. Fra Marino melaporkan bahwa setelah memiliki kedudukan di Pengadilan Inkuisisi, ia akhirnya memiliki sejumlah karya, yang membuatnya percaya bahwa teks Alkitab telah dipalsukan, dan bahwa teks-teks apostolik yang asli telah disingkirkan dengan cara yang tidak semestinya. Fra Marino juga mengklaim bahwa ia telah diperingatkan tentang keberadaan Injil Barnabas, dari sebuah acuan dalam sebuah karya (yang tidak dikenal) oleh Ireneus menentang Paulus; dalam sebuah buku yang telah dipersembahkan kepadanya oleh seorang perempuan bangsawan dari keluarga Colonna (Marino, di luar Roma, adalah lokasi dari Palazzo Colonna).
Kesimpulan.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik beberapa alternatif kesimpulan yang menyangkut keberadaan Injil Barnabas:
1.             Injil Barnabas dikarang oleh penulis yang bernama Ibrahim al-Taybili, sekitar 1634 oleh di Tunisia sehingga memiliki ciri isi yang tidak sama dengan Injil Kanonik (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes).
2.             Injil Barnabas mencoba menggambarkan “Yesus”, tetapi berbeda dengan gambaran dalam Injil Kanonik sehingga dapat dikategorikan sebagai ajaran bidat yang dipakai sejak abad ke 14 dimulai dalam rangka program pemalsuan ayat-ayat Alkitab. Itu sebabnya, Injil ini tidak dikenal oleh kebanyakan Jemaat Kristen.
3.             Injil Barnabas sesungguhnya dituliskan dengan pasal-pasal yang tidak lengkap, sehingga memungkinkan adanya pelintiran yang berpihak kepada golongan tertentu untuk menyerang kekristenan.
Bersambung

 Referensi:
2.         Lonsdale & Laura Ragg, The Gospel Barnabas, Oxford: Clarendon Press, 1907. ISBN 1-881316-15-7.
3.         R. Blackhirst, "The Medieval Gospel of Barnabas": Teks lengkap naskah Injil Barnabas bahasa Italia (dalam bahasa Inggris), 1987.
4.         Oddbjørn Leirvik, "History as a Literary Weapon:The Gospel of Barnabas in Muslim-Christian Polemics, Studia Theological 56:1, 2002, hlm. 4-26. Sebuah tinjauan historis dari perspektif Kristen dan Islam.
5.         Drs. B.F. Drewes dan Drs. J. Slomp Seluk-beluk buku yang disebut Injil Barnabas. Jakarta: BPK. Gunung Mulia, n.p
6.          J. E. Fletcher, The Spanyol Injil Barnabas, Novum Testamentum vol. XVIII (1976), p. 314-320.

Jumat, 30 Agustus 2013

Ayah Kristen






 Wilson, M.Th

AYAH KRISTEN: WARISAN APA YANG ANDA TINGGALKAN?
Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub:  “Bersiaplah engkau laki-laki; AKU akan menanyai engkau, dan engkau memberitahu AKU” (Ayub 40:1).

Ayub, Abraham, Samuel, Daud, dan tokoh Alkitab lainnya adalah para ayah yang percaya kepada Allah serta mereka telah meninggalkan warisan berharga bagi anak-anak mereka.  Ayub mewarisi ketekunan, Abraham mewariskan iman, anak-anak Samuel tidak hidup seperti ayah mereka, Daud dalam tahap tertentu tidak mewariskan kehidupan yang saleh.   Kisah mereka dapat memberikan inspirasi kepada ayah Kristen zaman sekarang untuk mulai meninggalkan warisan kepada anak-anaknya agar dikenang sepanjang masa.   Karena itu, Alkitab memberikan kepada ayah Kristen dua tanggung jawab utama yang merupakan warisan kepada anak-anaknya, yaitu:
A.      Pengajaran tentang Sikap Hormat.
Ayah Kristen harus mengajarkan rasa hormat anak kepada TUHAN.  Tanggung jawab tersebut hanya dapat dilakukan oleh seorang ayah yang juga menghormati TUHAN dan mengakui otoritas-Nya secara utuh. Karena itu, Firman tulis dituliskan demikian:  “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat TUHAN” (Efesus 6:4).  Artinya, seorang ayah perlu mendidik anak-anak melalui apa yang mereka lihat dari kehidupannya dalam hubungannya dengan sikap kepada TUHAN.  Biarkan anak-anak melihat ayah mereka dalam sikap hormat pertama terhadap ibu mereka dan orang-orang terdekat, dan orang lain juga tentunya.  Ayah Kristen perlu mengajar anak-anak menghormati diri mereka sendiri.  Ajarkan kepada mereka makna:  “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mazmur 139:14), sehingga mereka menyadari bahwa pada diri masing-masing TUHAN melakukan sesuatu yang dahsyat dan ajaib serta mereka menghormati diri mereka sendiri.  Ayah Kristen juga perlu mendisiplin anak-anak.  Firman TUHAN berkata:  “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya” (Amsal 22:15).  “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya” (Amsal 13:24).  “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya” (Amsal 19:18).  Artinya, seorang ayah wajib menanamkan disiplin terhadap anak, tetapi tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak (Efesus 6:4).

B.       Pengajaran yang Menjadikan Anak-Anak Dewasa dan Bertanggung Jawab.
Dasar tanggung jawab ini adalah fakta:  “Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek-moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada ALLAH dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan ALLAH, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; (Mazmur 78:5-7).  Artinya, anak-anak akan menjadi dewasa dan bertanggung jawab secara rohani apabila ayah mereka memperkenalkan Firman TUHAN sejak dini, agar mereka menaruh pengharapan kepada ALLAH dan memegang perintah-perintah-Nya.  Teks ini juga memberikan makna bahwa ayah Kristen perlu mendorong anak-anak belajar Firman TUHAN, menolong mereka berdoa, membantu anak mengambil keputusan dengan benar, mendorong mereka bergaul dengan teman-teman yang benar (Amsal 1:8-19), memberi mereka tanggung jawab harian, dan mengharapkan mereka menyelesaikan tugas sekolah dengan baik.   Ayah Kristen bertanggung jawab membentuk karakter yang saleh dari anak-anak melalui hubungan mereka dengan TUHAN sehingga mereka memperoleh kasih, sukacita, dan damai sejahtera (Galatia 5:22a); melalui hubungan mereka dengan sesama untuk mempertajam kesabaran, kemurahan, dan kebaikan (Galatia 5:22b); dan melalui hubungan anak dengan dirinya sendiri agar terlatih dalam kesetiaan, kelemah-lembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22c-23).

Kesimpulan:  Seorang ayah yang meninggalkan warisan rohani bagi anak-anaknya adalah ayah Kristen yang tunduk pada otoritas TUHAN ALLAH.  Daud gagal mewariskan kehidupan rohani kepada anak-anaknya, karena ia tidak tunduk pada otoritas TUHAN.  Berdasarkan Ulangan 6:5-7, warisan rohani yang wajib ditinggalkan oleh ayah Kristen adalah anak-anak mengasihi TUHAN ALLAH dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi mereka, dan mereka kemudian akan mampu mengajarkan Firman ALLAH kepada generasi berikutnya.