Wilson, M.Th
AYAH
KRISTEN: WARISAN
APA YANG ANDA TINGGALKAN?
Maka
dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub:
“Bersiaplah engkau laki-laki; AKU akan menanyai engkau, dan engkau
memberitahu AKU” (Ayub 40:1).
Ayub,
Abraham, Samuel, Daud, dan tokoh Alkitab lainnya adalah para ayah yang percaya
kepada Allah serta mereka telah meninggalkan warisan berharga bagi anak-anak
mereka. Ayub mewarisi ketekunan, Abraham
mewariskan iman, anak-anak Samuel tidak hidup seperti ayah mereka, Daud dalam
tahap tertentu tidak mewariskan kehidupan yang saleh. Kisah mereka dapat memberikan inspirasi
kepada ayah Kristen zaman sekarang untuk mulai meninggalkan warisan kepada
anak-anaknya agar dikenang sepanjang masa.
Karena itu, Alkitab memberikan kepada ayah Kristen dua tanggung jawab
utama yang merupakan warisan kepada anak-anaknya, yaitu:
A.
Pengajaran
tentang Sikap Hormat.
Ayah Kristen harus mengajarkan rasa hormat anak
kepada TUHAN. Tanggung jawab tersebut hanya dapat dilakukan
oleh seorang ayah yang juga menghormati TUHAN dan mengakui otoritas-Nya secara
utuh. Karena itu, Firman tulis dituliskan demikian: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah
dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat
TUHAN” (Efesus 6:4). Artinya, seorang
ayah perlu mendidik anak-anak melalui apa yang mereka lihat dari kehidupannya
dalam hubungannya dengan sikap kepada TUHAN.
Biarkan anak-anak melihat ayah mereka dalam sikap hormat pertama
terhadap ibu mereka dan orang-orang terdekat, dan orang lain juga
tentunya. Ayah Kristen perlu mengajar anak-anak menghormati diri mereka sendiri. Ajarkan kepada mereka makna: “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena
kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar
menyadarinya” (Mazmur 139:14), sehingga mereka menyadari bahwa pada diri
masing-masing TUHAN melakukan sesuatu yang dahsyat dan ajaib serta mereka
menghormati diri mereka sendiri. Ayah Kristen juga perlu mendisiplin
anak-anak. Firman TUHAN
berkata: “Kebodohan melekat pada hati
orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya” (Amsal
22:15). “Siapa tidak menggunakan
tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia
pada waktunya” (Amsal 13:24). “Hajarlah
anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya”
(Amsal 19:18). Artinya, seorang ayah wajib
menanamkan disiplin terhadap anak, tetapi tidak membangkitkan amarah dalam hati
anak-anak (Efesus 6:4).
B.
Pengajaran yang
Menjadikan Anak-Anak Dewasa dan Bertanggung Jawab.
Dasar tanggung
jawab ini adalah fakta: “Telah
ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel;
nenek-moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak
mereka, supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan
lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka
menaruh kepercayaan kepada ALLAH dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan ALLAH,
tetapi memegang perintah-perintah-Nya; (Mazmur 78:5-7). Artinya, anak-anak akan menjadi dewasa dan
bertanggung jawab secara rohani apabila ayah mereka memperkenalkan Firman TUHAN
sejak dini, agar mereka menaruh pengharapan kepada ALLAH dan memegang
perintah-perintah-Nya. Teks ini juga
memberikan makna bahwa ayah Kristen perlu mendorong anak-anak belajar Firman
TUHAN, menolong mereka berdoa, membantu anak mengambil keputusan dengan benar, mendorong
mereka bergaul dengan teman-teman yang benar (Amsal 1:8-19), memberi mereka
tanggung jawab harian, dan mengharapkan mereka menyelesaikan tugas sekolah
dengan baik. Ayah Kristen bertanggung
jawab membentuk karakter yang saleh dari anak-anak melalui hubungan mereka
dengan TUHAN sehingga mereka memperoleh kasih, sukacita, dan damai sejahtera
(Galatia 5:22a); melalui hubungan mereka dengan sesama untuk mempertajam
kesabaran, kemurahan, dan kebaikan (Galatia 5:22b); dan melalui hubungan anak
dengan dirinya sendiri agar terlatih dalam kesetiaan, kelemah-lembutan, dan
penguasaan diri (Galatia 5:22c-23).
Kesimpulan: Seorang ayah
yang meninggalkan warisan rohani bagi anak-anaknya adalah ayah Kristen yang
tunduk pada otoritas TUHAN ALLAH. Daud
gagal mewariskan kehidupan rohani kepada anak-anaknya, karena ia tidak tunduk
pada otoritas TUHAN. Berdasarkan Ulangan
6:5-7, warisan rohani yang wajib ditinggalkan oleh ayah Kristen adalah
anak-anak mengasihi TUHAN ALLAH dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi
mereka, dan mereka kemudian akan mampu mengajarkan Firman ALLAH kepada generasi
berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar