Jumat, 30 Agustus 2013

Ayah Kristen






 Wilson, M.Th

AYAH KRISTEN: WARISAN APA YANG ANDA TINGGALKAN?
Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub:  “Bersiaplah engkau laki-laki; AKU akan menanyai engkau, dan engkau memberitahu AKU” (Ayub 40:1).

Ayub, Abraham, Samuel, Daud, dan tokoh Alkitab lainnya adalah para ayah yang percaya kepada Allah serta mereka telah meninggalkan warisan berharga bagi anak-anak mereka.  Ayub mewarisi ketekunan, Abraham mewariskan iman, anak-anak Samuel tidak hidup seperti ayah mereka, Daud dalam tahap tertentu tidak mewariskan kehidupan yang saleh.   Kisah mereka dapat memberikan inspirasi kepada ayah Kristen zaman sekarang untuk mulai meninggalkan warisan kepada anak-anaknya agar dikenang sepanjang masa.   Karena itu, Alkitab memberikan kepada ayah Kristen dua tanggung jawab utama yang merupakan warisan kepada anak-anaknya, yaitu:
A.      Pengajaran tentang Sikap Hormat.
Ayah Kristen harus mengajarkan rasa hormat anak kepada TUHAN.  Tanggung jawab tersebut hanya dapat dilakukan oleh seorang ayah yang juga menghormati TUHAN dan mengakui otoritas-Nya secara utuh. Karena itu, Firman tulis dituliskan demikian:  “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat TUHAN” (Efesus 6:4).  Artinya, seorang ayah perlu mendidik anak-anak melalui apa yang mereka lihat dari kehidupannya dalam hubungannya dengan sikap kepada TUHAN.  Biarkan anak-anak melihat ayah mereka dalam sikap hormat pertama terhadap ibu mereka dan orang-orang terdekat, dan orang lain juga tentunya.  Ayah Kristen perlu mengajar anak-anak menghormati diri mereka sendiri.  Ajarkan kepada mereka makna:  “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mazmur 139:14), sehingga mereka menyadari bahwa pada diri masing-masing TUHAN melakukan sesuatu yang dahsyat dan ajaib serta mereka menghormati diri mereka sendiri.  Ayah Kristen juga perlu mendisiplin anak-anak.  Firman TUHAN berkata:  “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya” (Amsal 22:15).  “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya” (Amsal 13:24).  “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya” (Amsal 19:18).  Artinya, seorang ayah wajib menanamkan disiplin terhadap anak, tetapi tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak (Efesus 6:4).

B.       Pengajaran yang Menjadikan Anak-Anak Dewasa dan Bertanggung Jawab.
Dasar tanggung jawab ini adalah fakta:  “Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek-moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada ALLAH dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan ALLAH, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; (Mazmur 78:5-7).  Artinya, anak-anak akan menjadi dewasa dan bertanggung jawab secara rohani apabila ayah mereka memperkenalkan Firman TUHAN sejak dini, agar mereka menaruh pengharapan kepada ALLAH dan memegang perintah-perintah-Nya.  Teks ini juga memberikan makna bahwa ayah Kristen perlu mendorong anak-anak belajar Firman TUHAN, menolong mereka berdoa, membantu anak mengambil keputusan dengan benar, mendorong mereka bergaul dengan teman-teman yang benar (Amsal 1:8-19), memberi mereka tanggung jawab harian, dan mengharapkan mereka menyelesaikan tugas sekolah dengan baik.   Ayah Kristen bertanggung jawab membentuk karakter yang saleh dari anak-anak melalui hubungan mereka dengan TUHAN sehingga mereka memperoleh kasih, sukacita, dan damai sejahtera (Galatia 5:22a); melalui hubungan mereka dengan sesama untuk mempertajam kesabaran, kemurahan, dan kebaikan (Galatia 5:22b); dan melalui hubungan anak dengan dirinya sendiri agar terlatih dalam kesetiaan, kelemah-lembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22c-23).

Kesimpulan:  Seorang ayah yang meninggalkan warisan rohani bagi anak-anaknya adalah ayah Kristen yang tunduk pada otoritas TUHAN ALLAH.  Daud gagal mewariskan kehidupan rohani kepada anak-anaknya, karena ia tidak tunduk pada otoritas TUHAN.  Berdasarkan Ulangan 6:5-7, warisan rohani yang wajib ditinggalkan oleh ayah Kristen adalah anak-anak mengasihi TUHAN ALLAH dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi mereka, dan mereka kemudian akan mampu mengajarkan Firman ALLAH kepada generasi berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar